Gemanews id-Makassar — Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan, dinamika dukungan terhadap figur Ilham Arief Sirajuddin (IAS) terus menjadi perhatian.sejumlah kelompok pendukung yang menamakan diri sebagai militan akar rumput menilai kekuatan IAS tidak hanya bertumpu pada struktur partai, tetapi juga pada basis loyalitas sosial yang dinilai mengakar di berbagai daerah.
Dalam berbagai diskursus politik lokal, muncul pandangan bahwa kekuatan IAS mencerminkan apa yang dalam sosiologi politik kerap disebut sebagai loyalitas tradisional-kharismatik, yakni bentuk dukungan yang tumbuh dari kedekatan personal, relasi emosional, dan rekam jejak panjang, bukan semata pertimbangan transaksional atau struktural.
Menurut sejumlah pendukung, modal sosial IAS dibangun melalui hubungan personal yang telah terjalin puluhan tahun dengan berbagai tokoh masyarakat di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Pola pendekatan yang akomodatif dan dinilai terbuka disebut menjadi salah satu faktor yang menjaga soliditas jejaring pendukungnya.
Analisis yang berkembang juga menyoroti militansi lapangan sebagai elemen penting dalam kontestasi politik.
Basis dukungan yang bergerak karena loyalitas personal dinilai memiliki daya mobilisasi yang lebih kuat dalam menghadapi agenda elektoral, termasuk dalam upaya memperkuat kembali posisi Golkar di Sulawesi Selatan.
Selain itu, IAS dinilai oleh sejumlah kalangan memiliki kemampuan sebagai “simpul massa”, yakni figur yang dianggap mampu mempertemukan beragam kelompok dan faksi politik dalam satu konsolidasi.
Faktor ini disebut menjadi salah satu alasan mengapa namanya tetap diperhitungkan dalam peta persaingan menuju Musda.
Dalam konteks internal partai, sejumlah pengamat menilai para pemilik suara di tingkat DPD II kemungkinan akan mempertimbangkan tidak hanya aspek administratif dan organisasi, tetapi juga kapasitas figur dalam membangun militansi, soliditas kader, dan daya saing elektoral partai ke depan.
Meski dukungan terhadap IAS disebut menguat di sejumlah basis, dinamika Musda Golkar Sulsel.
Proses penentuan kepemimpinan tetap bergantung pada mekanisme partai, pertimbangan pemegang suara, serta keputusan strategis Dewan Pimpinan Pusat di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia.
Pengamat menilai, siapapun yang terpilih nantinya, tantangan utama tetap sama: mengonsolidasikan kekuatan partai dan mengembalikan daya saing Golkar di Sulawesi Selatan.(**)










