Ian Kamaruddin Sentil Elite yang Dinilai Bangun Framing Tekanan ke DPP Golkar
Makassar — Suhu politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan kian memanas.di tengah manuver sejumlah elite dan munculnya dukungan dari berbagai DPD II, kader muda Partai Golkar, Ian Kamarudin alias Ian Anarki, melontarkan kritik keras terhadap pihak-pihak yang dinilai mencoba membangun framing politik bernuansa tekanan terhadap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Ian menegaskan, narasi yang menyebut penurunan suara Golkar di Sulawesi Selatan disebabkan oleh keputusan DPP dalam Musda sebelumnya merupakan argumentasi keliru dan cenderung menggiring opini publik secara tendensius.
“Jangan mencoba mengintimidasi DPP Golkar dengan narasi seolah-olah setiap keputusan pusat menjadi penyebab turunnya suara partai. Itu argumentasi simplistis dan tidak mencerminkan semangat kaderisasi Golkar,” tegas Ian, Kamis.
Menurut Ian Kamaruddin Salah Satu Kader Golkar Jeneponto, persoalan utama yang justru perlu dievaluasi adalah lemahnya konsolidasi internal di sejumlah daerah.ia menilai sebagian elite daerah lebih sibuk membangun peta kekuatan politik menjelang Musda dibanding memperkuat struktur partai dan menjaga militansi kader di akar rumput.
“Kalau hari ini ada penurunan elektoral di beberapa wilayah, maka yang harus dievaluasi adalah kepemimpinan daerah yang gagal melakukan konsolidasi partai secara maksimal. Jangan semua dibebankan ke DPP,” ujarnya.
Ian Kamaruddin menilai, Partai Golkar sejak awal dibangun dengan tradisi organisasi yang kuat, kolektif, dan berjenjang.
Karena itu, komunikasi politik antara daerah dan pusat seharusnya dibangun secara elegan, bukan melalui tekanan opini maupun insinuasi politik yang berpotensi memecah soliditas partai.
“Golkar ini partai karya, bukan forum gertak politik. Kader yang memahami sejarah dan doktrin Golkar pasti tahu bahwa loyalitas organisasi dan kemampuan membesarkan partai di daerah adalah ukuran utama,” katanya.
Ia bahkan secara terbuka menyatakan bahwa figur atau kelompok yang memainkan framing intimidatif terhadap DPP dinilai tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan.
“Saya kira kandidat yang melakukan skema framing intimidatif terhadap DPP tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan.
Golkar membutuhkan pemimpin pemersatu yang mampu membangun konsolidasi partai, bukan figur yang sibuk memainkan tekanan opini demi kepentingan Musda,” lanjut Ian.
Menurutnya, Musda semestinya menjadi momentum memperkuat soliditas dan konsolidasi partai menghadapi agenda politik nasional mendatang, bukan malah memperuncing ketegangan internal antara daerah dan pusat.
“Jangan karena ambisi Musda lalu energi partai habis untuk saling menekan.yang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini adalah kerja konsolidasi nyata, memperkuat kaderisasi, dan mengembalikan kekuatan partai di tengah masyarakat,” tutupnya.(**)











